Oleh: Matius Rohadi
SMA Strada Bhakti Wiyata, Bekasi
Perjalanan menuju Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, meninggalkan kesan yang mendalam. Jalan berkelok dengan kondisi rusak akibat longsor, pohon tumbang, serta guncangan kendaraan membuat perjalanan terasa berat dan menantang. Candaan Pastor Gusti yang menyebut bahwa siapa pun yang selamat melewati jalur ini akan mampu melintasi seluruh jalan di Indonesia bukan sekadar humor, melainkan gambaran nyata tentang beratnya akses wilayah tersebut. Kondisi ini sekaligus mengingatkan pada dampak serius bencana alam, seperti longsor dan banjir di Sibolga, yang kerap memutus jalur logistik dan mengisolasi masyarakat.
Setibanya di SMP Santo Fransiskus Pandan, rombongan disambut hangat oleh pengurus Yayasan Budi Bakti, para suster, serta guru-guru sekolah. Kedatangan mereka membawa bantuan dari Perkumpulan Strada bagi warga terdampak. Sambil menunggu proses koordinasi, suasana sekitar sekolah memunculkan kembali ingatan tentang video banjir Sibolga yang sempat ramai di media sosial. Dari pengalaman singkat itu, tersusun refleksi mendalam tentang relasi manusia dengan alam.
Alam sejatinya bukan musuh yang harus ditaklukkan atau dimusnahkan. Sebaliknya, alam merupakan sahabat yang menyediakan sumber kehidupan bagi manusia. Ketika manusia menghargai dan merawatnya, alam akan terus menopang kehidupan. Namun, ketika alam diabaikan dan dieksploitasi tanpa kendali, bencana menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Banjir bandang dan longsor yang membawa batu-batu besar seukuran rumah menjadi bukti betapa dahsyatnya kekuatan alam ketika keseimbangannya terganggu.
Hilangnya fungsi alam juga berdampak langsung pada kesehatan dan stabilitas kehidupan manusia. Ketersediaan air bersih, misalnya, menjadi persoalan krusial. Air minum mungkin masih bisa dibeli, tetapi air untuk mandi, mencuci, dan memasak tidak selalu mudah diperoleh. Ketika air menjadi langka, kehidupan sehari-hari terganggu dan potensi konflik sosial meningkat. Tidak semua orang mampu terus-menerus membeli kebutuhan dasar tersebut.

Pengalaman hidup di wilayah dengan keterbatasan air, seperti yang pernah terjadi di Gunung Kidul pada awal tahun 2000-an, memperlihatkan betapa beratnya kehidupan tanpa akses air memadai. Setiap hari, upaya mendapatkan air harus dilakukan sejak dini hari, bersaing dengan warga sekitar, dan sering kali berujung pada rasa frustrasi. Pengalaman tersebut menanamkan kepekaan yang mendalam terhadap setiap tetes air yang terbuang sia-sia.
Di sisi lain, kondisi alam global menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Data dari World Wildlife Fund mencatat bahwa populasi satwa liar dunia menurun rata-rata hingga 73 persen dalam 50 tahun terakhir akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi, polusi, dan alih fungsi lahan. Lebih dari satu juta spesies tumbuhan dan hewan kini terancam punah. Dampak dari krisis ini tidak hanya dirasakan oleh flora dan fauna, tetapi juga oleh manusia melalui melemahnya penyediaan air bersih, ketahanan pangan, serta keseimbangan iklim.
Oleh karena itu, menjaga alam bukan sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan bersama. Alam bukan latar belakang kehidupan manusia, melainkan sumber hidup yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab demi generasi masa kini dan masa depan.