Oleh: Tri Marta Nugrahaningsih, S.Pd.
Guru SD Strada Bina Mulia 1


Sekolah sering dipahami semata sebagai ruang belajar kognitif, tempat anak-anak membaca, berhitung, dan menalar. Padahal, dalam praktik sehari-hari, proses belajar tidak pernah berdiri sendiri. Ia sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik, emosi, serta pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik. Dalam konteks inilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan makna yang lebih dalam, bukan sekadar sebagai program bantuan pangan, melainkan sebagai upaya memanusiakan pendidikan sejak kebutuhan paling dasar anak terpenuhi.

Kehadiran MBG di sekolah menjadi pengalaman yang sangat nyata. Anak-anak datang dengan latar belakang keluarga yang beragam. Tidak semua murid memulai hari dengan sarapan yang cukup. Dalam kondisi seperti ini, pembelajaran yang bermakna sulit tercapai apabila rasa lapar masih menjadi “teman” di ruang kelas. MBG hadir sebagai jawaban konkret atas persoalan tersebut, memastikan setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar dalam kondisi yang layak dan bermartabat.

Lebih dari sekadar pemenuhan asupan gizi, MBG juga membawa nilai pendidikan karakter. Anak-anak belajar disiplin waktu makan, kebersamaan, rasa syukur, serta kepedulian terhadap sesama. Makan bersama di sekolah menjadi ruang sosial yang mendidik, tempat anak belajar mengantre, berbagi, dan menghargai makanan sebagai hasil kerja banyak pihak. Dalam hal ini, MBG sejalan dengan semangat pendidikan Strada yang menempatkan pembentukan karakter sejajar dengan pengembangan intelektual.

Dari sudut pandang guru, dampak MBG terasa langsung dalam proses pembelajaran. Anak-anak tampak lebih fokus, lebih berenergi, dan lebih siap mengikuti kegiatan belajar. Interaksi di kelas menjadi lebih hidup, dan daya tahan anak dalam mengikuti pembelajaran meningkat. Hal ini menegaskan bahwa gizi bukan urusan di luar pendidikan, melainkan bagian integral dari keberhasilan belajar itu sendiri.

Tentu, program MBG bukan tanpa tantangan. Aspek pengelolaan, kebersihan, variasi menu, hingga edukasi tentang pola makan sehat perlu terus dievaluasi dan disempurnakan. Namun tantangan tersebut justru mengingatkan kita bahwa MBG bukan program instan, melainkan proses panjang dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kesejahteraan anak.

Pada akhirnya, MBG mengajarkan satu hal mendasar, pendidikan yang sungguh berpihak pada anak dimulai dari keberanian sekolah melihat peserta didik secara utuh, sebagai pribadi yang berpikir, merasa, dan membutuhkan pemenuhan dasar untuk bertumbuh. Ketika anak kenyang, sehat, dan merasa diperhatikan, di situlah pembelajaran yang sesungguhnya menemukan pijakannya. MBG bukan hanya soal makan gratis, melainkan pernyataan nilai bahwa setiap anak layak tumbuh, belajar, dan bermimpi dalam kondisi terbaik.