Oleh: Wilhelmina Mariana Ema

Kecerdasan artifisial, atau yang lebih dikenal dengan sebutan AI (artificial intelligence), kini hadir di ruang kelas tanpa mengetuk pintu. Ia tidak meminta izin kurikulum, tidak menunggu pelatihan guru, dan tidak peduli pada kesiapan sistem pendidikan. AI sudah digunakan oleh siswa, sering kali lebih cepat dan lebih lihai daripada para pendidiknya. Ia tidak datang ke sekolah mengenakan seragam, tetapi dampaknya sudah duduk rapi di bangku kelas. AI hadir di layar ponsel siswa, di balik tugas yang tiba-tiba terasa terlalu sempurna, dan di jawaban yang cepat namun hampa makna. Tanpa aba-aba, kecerdasan artifisial telah menjadi “murid tak kasatmata” yang ikut belajar, bahkan kadang seolah mengajar, di ruang kelas kita.

Sebagian guru merespons kehadiran ini dengan kecurigaan, sebagian dengan larangan, dan tidak sedikit dengan kelelahan. Reaksi tersebut wajar, sebab perubahan ini terjadi terlalu cepat sementara sistem pendidikan bergerak tertatih. Namun, menutup mata bukanlah pilihan. AI bukan tren sesaat yang akan berlalu, melainkan penanda zaman yang sedang menguji cara kita memaknai pendidikan. Situasi ini menjadi keprihatinan yang mau tidak mau harus segera disikapi dengan kebijaksanaan. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah AI akan mengubah pendidikan, melainkan apakah guru siap menghadapi perubahan itu dengan kesadaran kritis.

Bagi para guru di sekolah Strada, kehadiran AI bukan semata tantangan teknis, melainkan juga ujian terhadap identitas pendidikan yang selama ini dihidupi. Kehadiran AI mengajak kita pada kejujuran reflektif, apakah pembelajaran sungguh membentuk manusia, atau sekadar melatih siswa menjawab soal. Di titik inilah tantangan guru masa kini menjadi nyata, bukan karena AI terlalu cerdas, melainkan karena pendidikan dituntut menjadi lebih mendalam dan bermakna. Pendidikan tidak berhenti pada angka di atas kertas, tetapi tercermin dalam sikap, tutur kata, serta cara pandang yang terus bertumbuh.

Ketertinggalan yang Tak Mau Diakui

Salah satu persoalan paling nyata di dunia pendidikan saat ini adalah sikap defensif. Banyak guru, sering kali tanpa disadari, merasa tidak nyaman ketika harus mengakui bahwa sebagian siswanya lebih cepat dan lebih luwes dalam menguasai teknologi. Ketidaknyamanan itu manusiawi. Namun, ketika tidak diolah secara jujur, ia dapat berubah menjadi penolakan.

Dalam situasi seperti ini, AI dengan mudah diberi label negatif. Ia dilihat sebagai sumber kecurangan, jalan pintas yang merusak proses belajar, bahkan dianggap sebagai musuh pendidikan. Padahal, yang sering kali kita lawan bukanlah teknologinya, melainkan rasa takut kehilangan kendali dan otoritas di kelas.

Alih-alih membuka ruang dialog, respons defensif justru memperlebar jarak antara guru dan siswa. Siswa pun belajar satu hal penting, bukan bagaimana belajar dengan benar, melainkan bagaimana menghindari ketahuan. Di titik ini, pendidikan kehilangan rohnya, bukan karena AI terlalu pintar, melainkan karena manusia berhenti saling percaya dan belajar bersama.

AI Membongkar Kelemahan Pembelajaran Konvensional

Kehadiran AI sejatinya sedang menyingkap persoalan lama dalam pendidikan, yaitu pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan dan jawaban tunggal. Ketika sebuah tugas dapat diselesaikan mesin dalam hitungan detik, yang patut direfleksikan bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan kedalaman proses belajar yang kita tawarkan kepada siswa.

Dalam tradisi Ignasian, pengalaman selalu menjadi titik awal pembelajaran. AI kini menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa, siap atau tidak siapnya kita. Pertanyaannya kemudian, apakah pengalaman ini kita olah melalui refleksi, atau kita biarkan berlalu begitu saja. Guru ditantang untuk jujur bertanya, apakah kelas selama ini sungguh melatih siswa berpikir, atau hanya mengulang sesuatu yang bahkan sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman.

Refleksi Ignasian menuntun kita menuju tindakan. AI mendorong guru Strada keluar dari zona nyaman untuk merancang pembelajaran yang menuntut analisis, pertimbangan nilai, dan keberanian mengambil sikap. Mesin mungkin mampu memberi jawaban, tetapi hanya pendidik yang dapat menuntun siswa menemukan makna. Di sanalah Magis menemukan wujudnya, pembelajaran yang menggerakkan akal, hati, dan nurani secara utuh.

Magis yang Sering Disalahpahami

Di tengah tantangan ini, kita kembali diajak menengok tradisi pendidikan Strada yang berakar pada spiritualitas Ignasian. Kehadiran AI justru menyentuh lapisan terdalam dari tradisi tersebut. Magis kerap disalahpahami sebagai dorongan untuk terus menambah, lebih banyak kegiatan, lebih padat administrasi, dan lebih cepat mengejar target. Padahal, Magis sejati mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur, apakah semua yang kita lakukan sungguh membantu siswa bertumbuh.

Melalui keheningan refleksi, kita belajar bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas, dan kedalaman lebih bermakna daripada kesibukan. Karena itu, mengabaikan AI atau sekadar memanfaatkannya untuk mempercepat pekerjaan bukanlah wujud Magis. Magis di era AI adalah keberanian untuk menata ulang cara mengajar dengan kesadaran penuh. Guru diajak memilah praktik yang sungguh membentuk nalar, karakter, dan hati siswa, serta meninggalkan kebiasaan yang dijalankan hanya karena “sudah biasa begitu”.

Guru Tidak Tergantikan, Tetapi Bisa Menjadi Tidak Relevan

Perlu dikatakan secara jujur dan tegas, guru tidak akan tergantikan oleh AI, tetapi guru bisa tergeser jika menolak berubah. AI tidak mampu menggantikan relasi, empati, dan pembinaan nilai. Namun, relasi pun kehilangan makna jika guru tidak lagi memahami dunia muridnya.

Guru Strada dipanggil bukan hanya untuk menguasai materi, melainkan untuk hadir sebagai pendamping yang kritis, reflektif, dan kontekstual. Cura personalis tidak berarti memanjakan siswa, tetapi menantang mereka untuk bertumbuh, termasuk dalam menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Dari Pengendali Menuju Penuntun

Era AI menuntut pergeseran peran guru, dari pengendali kelas menjadi penuntun pembelajaran. Guru tidak lagi sibuk menjaga agar siswa “tidak menggunakan AI”, melainkan mengarahkan bagaimana AI dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman, bukan menggantikannya.

Perubahan ini menuntut keberanian institusional, kurikulum yang adaptif, evaluasi yang menilai proses berpikir, serta budaya refleksi yang hidup di kalangan pendidik. Tanpa itu semua, pendidikan berisiko tertinggal jauh di belakang realitas zaman yang terus bergerak.

Pilihan di Tangan Guru

Pada akhirnya, kehadiran AI mengajak kita masuk ke ruang batin yang hening. Ia memanggil kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan, lalu bertanya dengan jujur di hadapan Tuhan: apakah proses belajar yang kita jalani sungguh menuntun anak-anak pada kepenuhan hidup, atau hanya membuat mereka pandai menjawab tanpa sempat memahami maknanya? AI tidak menghapus peran guru, tetapi menjadi sarana penyingkapan mengungkap apa yang perlu dimurnikan dalam cara kita mendidik.

Bagi guru-guru Strada, pengalaman zaman ini adalah undangan untuk kembali pada jalan Ignasian: mengalami, merefleksikan, dan bertindak dalam terang iman. Magis di era digital bukan tentang menjadi lebih hebat, melainkan tentang kesetiaan melakukan yang lebih baik demi kebaikan siswa yang dipercayakan kepada kita. Di tengah kecerdasan buatan yang terus berkembang, pendidikan tetap membutuhkan hati yang mendengar, kehadiran yang setia, dan kebijaksanaan yang lahir dari doa. Di sanalah peran guru menemukan maknanya yang paling dalam.