Oleh: Crisna Irawati Berutu
Strada Tangerang
Dunia bergerak secepat jempol menari di atas layar. Namun di ruang kelas, literasi tetaplah proses yang menuntut ketenangan dan napas panjang. Membaca tidak bisa dipercepat seperti menggulir video pendek. Ia membutuhkan waktu, fokus, dan kesabaran.
“Miss, ini soalnya kok teksnya panjang banget. Bosan bacanya, Miss.”
Kalimat seperti ini bukan lagi keluhan sesaat. Ia sudah menjadi semacam musik latar yang kerap terdengar, bahkan sebelum lembar soal benar-benar sampai di meja siswa. Drama serupa muncul saat mereka mengerjakan soal pilihan ganda di platform digital. Baru beberapa nomor, keluhan lain menyusul, “Aku kira jawabannya A, ternyata C. Mirip banget, menjebak.”
Situasi ini memperlihatkan tantangan nyata yang dihadapi guru saat ini, yaitu berhadapan dengan budaya scroll. Generasi siswa sekarang sangat “atletis” dalam menggulir konten media sosial. Mereka mampu menatap layar selama puluhan menit tanpa lelah, karena setiap beberapa detik selalu ada rangsangan baru yang memicu rasa penasaran.
Masalahnya bukan karena siswa tidak menyukai pelajaran. Kelas justru sering terasa hidup dan penuh antusiasme. Namun suasana berubah ketika mereka harus berhadapan dengan teks panjang. Otak yang terbiasa bergerak cepat mengikuti ritme layar ponsel mendadak merasa jenuh saat harus berjalan perlahan menyusuri paragraf demi paragraf.

Dalam kondisi seperti ini, literasi seolah menjadi sesuatu yang berat. Hanya siswa dengan “napas panjang” yang mampu bertahan hingga menemukan ide pokok bacaan. Sebagian besar lainnya sudah merasa lelah bahkan sebelum sampai ke akhir teks. Kelesuan literasi ini paling terasa saat asesmen sumatif. Kebiasaan memindai konten media sosial terbawa ke ruang ujian. Siswa tidak benar-benar membaca, melainkan hanya mencari kata yang sama antara soal dan pilihan jawaban.
Ketika berhadapan dengan soal yang menuntut analisis, di mana pilihan jawaban sengaja dibuat mirip, mereka langsung merasa terkecoh. Mereka merasa dijebak, padahal yang terjadi adalah kurangnya ketelitian dan kedalaman membaca. Pesan tersirat gagal ditangkap karena fokus telah terpecah sebelum mencapai tanda titik terakhir.
Literasi sejatinya bukan sekadar urusan nilai rapor, melainkan ketangguhan mental. Untuk melatih kembali “otot fokus” siswa, diterapkan beberapa langkah sederhana. Pertama, menyuguhkan satu bacaan pendek dan meminta siswa fokus penuh selama tiga menit tanpa gangguan. Latihan ini membantu otak kembali terbiasa dengan ketenangan. Kedua, siswa tidak hanya diminta memilih jawaban benar, tetapi juga menjelaskan mengapa pilihan lain salah. Pendekatan ini memaksa mereka membaca ulang teks secara lebih teliti. Ketiga, membangun pembiasaan literasi yang santai namun konsisten agar hubungan siswa dengan bacaan perlahan pulih.
Mendidik anak-anak di tengah gempuran algoritma memang melelahkan. Prosesnya kerap terasa seperti mendayung melawan arus yang deras. Namun setiap kali seorang siswa tiba-tiba berkata, “Oh, aku ngerti maksudnya, Miss,” di situlah harapan kembali tumbuh.
Pendidikan bahasa Indonesia bukan hanya soal tata bahasa. Ia adalah upaya membekali siswa dengan jangkar agar tidak mudah hanyut oleh arus informasi yang cepat namun dangkal. Dengan pendampingan yang sabar, paragraf demi paragraf, literasi perlahan dapat kembali menjadi kekuatan, bukan beban. Dari sanalah tumbuh pemikiran yang kritis, mandiri, dan tidak mudah dimanipulasi oleh tren sesaat.