Oleh: Heribertus Bakti Dwi Antoro
Kepala SD Strada Van Lith I

Perubahan cuaca ekstrem yang kian sering terjadi di Jakarta dan berbagai kota lain di Indonesia menjadi pengingat bahwa alam memiliki ritme dan hukumnya sendiri. Hujan lebat, angin kencang, serta langit yang tiba-tiba menggelap bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan bagian dari proses alam yang kerap kali dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Fenomena ini mengajak kita untuk bertanya lebih jauh, apakah kita sungguh memahami cara kerja alam, atau justru semakin menjauh darinya karena gaya hidup yang abai terhadap keseimbangan lingkungan?

Alam memiliki caranya sendiri untuk memperbaiki diri. Kalimat ini menegaskan bahwa alam bukanlah sesuatu yang lemah. Alam justru sangat kuat. Ia telah ada kurang lebih empat miliar tahun yang lalu, berawal dari sebuah bola panas yang perlahan mendingin dan mengeras mengikuti atmosfer yang menyelimutinya.

Ketika alam terluka akibat “serangan” eksternal, ia secara alami akan “mengobati” dirinya dengan caranya sendiri. Makhluk hidup yang ada di atasnya bisa hilang, punah, atau berganti. Namun alam tidak banyak terpengaruh oleh perubahan tersebut dan selalu memiliki mekanisme untuk memulihkan dirinya.

Alam Tidak Butuh Manusia

“Di mana kita saat ini?” Pertanyaan ini menjadi pengantar dalam kegiatan Teacher Training Batch 5 yang diadakan oleh EcoCamp Bandung. Saat ini kita hidup di alam yang telah menyediakan hampir segala sesuatu bagi manusia. Ya, alam tidak membutuhkan manusia, manusialah yang membutuhkan alam. Pernyataan ini menegaskan bahwa manusia bukan pusat dari segalanya. Jika manusia merusak alam, alam tetap akan menemukan jalannya sendiri, tetapi manusialah yang akan menanggung akibatnya.

Apa yang terjadi ketika manusia hanya memikirkan isi perut tanpa menghargai pemberian alam? Jawaban dari pertanyaan ini tercermin dalam berbagai bencana alam yang terjadi di tanah air akhir-akhir ini. Kita turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera. Namun, di balik duka itu, kita perlu belajar dan bertanya, mengapa bencana sedahsyat ini bisa terjadi? Ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab sering kali menjadi bagian dari jawabannya.

Pendidik: Pribadi yang Berkesadaran

Sebagai seorang pendidik, mengajarkan perilaku ekologis kepada murid memiliki tantangan tersendiri. Saya teringat ketika sekolah mengadakan kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional. Pada kegiatan tersebut, murid diminta membuat kerajinan sederhana dari sampah. Mereka sangat antusias karena diizinkan membawa ponsel untuk mencari referensi. Keesokan harinya, mereka datang membawa botol plastik sekali pakai, plastik bekas wadah sabun, deterjen, dan berbagai kemasan lainnya. Secara berkelompok, mereka mulai membuat kerajinan sesuai referensi yang telah dicari.

Singkat cerita, semua karya berhasil diselesaikan. Namun ironisnya, kegiatan mengolah sampah menjadi kerajinan justru masih menghasilkan sisa-sisa sampah baru. Kisah sederhana ini menunjukkan bahwa mengajarkan perilaku ekologis tidak cukup hanya dengan aktivitas simbolik. Dibutuhkan kesadaran yang utuh dan mendalam. Kegiatan yang bertujuan mengurangi sampah plastik bisa saja tetap menghasilkan sampah plastik jika tidak disertai refleksi kritis.

EcoCamp mengajarkan praktik berkesadaran. Pukul 06.00 pagi digunakan untuk meditasi, sebagai upaya menyadari bahwa manusia perlu bersahabat dengan alam. Berkeliling kawasan EcoCamp tanpa alas kaki menjadi praktik berikutnya, agar peserta menyatu dengan tanah dan merasakan langsung kehadiran Ibu Bumi. Praktik berkesadaran juga dilakukan saat makan. Tujuh menit pertama digunakan untuk menyadari bahwa makanan yang ada merupakan hasil kemurahan alam. Alam telah memberikan segalanya, termasuk sumber energi bagi kehidupan manusia. Praktik-praktik ini bertujuan mengingatkan bahwa manusia seharusnya hidup sebagai sahabat bagi alam, bukan sebagai penguasa yang semena-mena.

Sekolah: Tempat Tumbuhnya Pertobatan Ekologis

Kegiatan Teacher Training Batch 5 tidak hanya mengajak peserta melakukan praktik berkesadaran, tetapi juga mendorong guru merancang pembelajaran yang mengarah pada pertobatan ekologis. Peserta yang merupakan guru PAUD dan SD diajak memahami cara menyampaikan nilai-nilai ekologis melalui pendekatan yang sesuai dengan dunia anak. Narasumber mencontohkan berbagai permainan yang gembira, seru, dan heboh. Permainan-permainan ini secara tidak langsung menanamkan nilai kepedulian terhadap alam yang kelak membentuk perilaku ekologis dalam diri murid.

Pada akhirnya, pendidik diharapkan menjadi pribadi yang menyenangkan sekaligus berkesadaran. Di tangan para pendidik, benih-benih perilaku ekologis dapat tumbuh. Ketika manusia mampu bersahabat dengan alam, kebutuhan hidup dapat terpenuhi tanpa merusak keberlanjutan bumi. Dengan demikian, manusia tetap dapat hidup sejahtera, dan alam pun tetap lestari.

Salam lestari, salam ekologi.