Oleh: Hadrian Priangga Puti
Kabag Pendidikan Jenjang SMP-SMA/K

Bumi Mertoyudan bukanlah tempat yang asing bagi Perkumpulan Strada. Dalam beberapa tahun terakhir, Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, telah menjadi ruang pembelajaran hidup yang istimewa bagi para siswa SMP di lingkungan Perkumpulan Strada. Di tempat inilah para remaja diajak sejenak keluar dari rutinitas, meninggalkan kenyamanan gawai dan hiruk pikuk keseharian, lalu masuk ke dalam irama hidup yang sarat disiplin, keheningan, kebersamaan, dan refleksi.

Pengalaman berharga itu kembali berlanjut pada Minggu pagi, 18 Januari 2026. Aula lantai 3 Kantor Strada Pusat tampak berbeda dari biasanya. Sebanyak 26 siswa dari 19 SMP Perkumpulan Strada di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi berkumpul dengan raut antusias sekaligus gugup. Mereka bersiap berangkat menuju Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan untuk mengikuti kegiatan Live in. Kegiatan diawali dengan arahan dan peneguhan dari Ibu Rini selaku Wakil Direktur Pendidikan Perkumpulan Strada, kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Wahyu selaku Pengawas Jenjang SMP-SMA/K Cabang Jakarta Timur.

Perjalanan panjang menuju Magelang menjadi awal terbangunnya kebersamaan. Di dalam bus, para siswa yang semula masih canggung perlahan mulai saling mengenal. Tawa dan cerita mengiringi perjalanan, menciptakan suasana hangat dan penuh semangat. Sekitar pukul 19.30 WIB, rombongan tiba di Seminari Mertoyudan dan disambut hangat oleh Romo Kartono bersama para seminaris. Para siswa kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil yang disebut Medan, mengikuti pembagian tingkatan para seminaris, yaitu Medan Pratama, Medan Tamtama, Medan Madya, dan Medan Utama. Seperti para seminaris, para peserta Live in menyerahkan telepon genggam dan barang pribadi tertentu untuk disimpan oleh pendamping selama kegiatan berlangsung. Setelah beradaptasi singkat dengan lingkungan asrama, para siswa beristirahat guna mempersiapkan diri mengikuti ritme hidup seminari keesokan harinya.

Senin pagi, 19 Januari 2026, kegiatan Live in resmi dimulai. Para siswa mengikuti kegiatan senam dan opera sesuai dengan jadwal Medan masing-masing. Opera merupakan kegiatan membersihkan area Medan, seperti menyapu, mengepel, mengelap jendela di sepanjang koridor, serta tugas kebersihan lainnya. Melalui kegiatan ini, para siswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan kesederhanaan hidup. Setelah senam dan opera, kegiatan dilanjutkan dengan misa pagi bersama para seminaris. Meski tubuh masih terasa lelah, para siswa mengikutinya dengan penuh semangat. Usai sarapan bersama di Refter, mereka menerima orientasi singkat mengenai tata tertib dan pola hidup di seminari.

Selama hari-hari Live in, para siswa menjalani kehidupan layaknya seorang seminaris. Mereka mengikuti kegiatan belajar di kelas, mulai dari pelajaran umum hingga pelajaran khas seminari seperti Bahasa Latin, Kitab Suci, dan musik. Sejumlah siswa mengaku terkesan dengan suasana belajar yang disiplin, namun tetap hangat dan penuh perhatian. Selain itu, mereka juga mengalami latihan hidup hening atau silensium. Pada waktu-waktu tertentu, para siswa diajak untuk tidak berbicara dan lebih banyak merenung. Bagi sebagian peserta, keheningan ini terasa menantang, namun melalui pengalaman tersebut mereka belajar mengenal diri, mengendalikan sikap, dan membuka ruang refleksi pribadi.

Setiap malam sebelum beristirahat, para siswa mengikuti refleksi harian bersama para seminaris di masing-masing Medan. Dalam suasana tenang, mereka diajak mengenang kembali pengalaman sepanjang hari, mulai dari hal-hal yang menyenangkan, tantangan yang dihadapi, hingga pelajaran yang diperoleh. Beberapa siswa mengungkapkan rasa syukur karena belajar hidup lebih disiplin, mandiri, dan peka terhadap sesama. Selain kegiatan utama, para peserta juga mengikuti berbagai kegiatan pendukung seperti Tour de Seminari, pengenalan lebih dekat tentang Seminari Mertoyudan, kunjungan perpustakaan, serta ambulasi. Ambulasi merupakan waktu yang diberikan kepada para seminaris untuk keluar membeli kebutuhan hidup atau berkeliling di area sekitar seminari.

Hari-hari Live in terasa berlalu dengan cepat. Pada Kamis pagi, 22 Januari 2026, setelah doa pagi dan sarapan bersama, seluruh peserta berkumpul untuk mengikuti penutupan kegiatan secara sederhana. Suasana haru menyelimuti momen perpisahan ketika para siswa berpamitan dengan para Romo, Frater, serta kakak-kakak seminaris yang selama beberapa hari telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk berfoto bersama, bersalaman, dan saling berpelukan.

Sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan meninggalkan Seminari Mertoyudan dan bertolak kembali menuju Jakarta. Perjalanan pulang terasa berbeda. Bus kembali dipenuhi cerita, namun kali ini disertai refleksi dan kenangan yang mendalam. Kegiatan Live in memang telah usai, tetapi pengalaman hidup dalam disiplin, kebersamaan, keheningan, dan iman akan terus tinggal dalam hati para siswa.

Semoga pengalaman Live in ini menjadi bekal berharga bagi 26 siswa dari 19 SMP Perkumpulan Strada untuk bertumbuh sebagai pribadi yang semakin dewasa, peduli, dan terbuka terhadap panggilan hidup yang Tuhan kehendaki.

Salam AMDG.