“Santa Maria della Strada, doakanlah kami.”
Kalimat ini akrab terdengar di setiap akhir doa yang didaraskan oleh para siswa-siswi serta guru dan karyawan di unit sekolah maupun kantor Perkumpulan Strada. Ungkapan tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan doa yang menyimpan makna spiritual yang mendalam.

Maria della Strada dapat diartikan sebagai Maria pelindung orang-orang yang sedang berada di jalan, atau dalam perjalanan hidup. Sebagaimana dikutip dari Serikat Jesus Provindo oleh L. A. Sardi, SJ, Maria della Strada dipahami sebagai sosok yang mendekatkan manusia kepada Sang Putera dan menyatukan kepada Allah Bapa. Makna ini menegaskan peran Maria sebagai pendamping setia dalam setiap peziarahan hidup manusia.

Peran tersebut juga tercermin dalam bait awal lagu Mars “Strada Majulah” versi lama. Di sana, Maria della Strada digambarkan sebagai penopang yang menemani perjalanan Perkumpulan Strada dalam karya pendidikan. Kehadirannya dimaknai sebagai penguat bagi mereka yang mengandalkan Tuhan, sehingga mampu membentuk pribadi-pribadi yang kokoh, teguh, dan tidak mudah menyimpang dari jalan kebenaran.

Maria della Strada sebagai Landasan Spiritualitas Strada

Buku Maria della Strada Penopang dalam Perjalanan yang terbit pada tahun 2017 menegaskan bahwa Maria della Strada menjadi landasan dasar spiritualitas pendidikan Perkumpulan Strada yang berada di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Dalam peziarahan karya pendidikan di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Maria della Strada dipandang sebagai pelindung yang menyertai seluruh keluarga besar Strada.

Karya pendidikan Strada yang dikelola oleh para imam Ordo Jesuit juga terinspirasi oleh pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola. Dalam peziarahan hidupnya, Santo Ignatius merasakan pendampingan, perlindungan, dan bimbingan Maria della Strada. Pengalaman rohani inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi Perkumpulan Strada dalam menjalankan karya pelayanan pendidikan bagi para siswa-siswi.

Inspirasi bagi Guru, Karyawan, dan Siswa

Spiritualitas Maria della Strada diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi sungguh dihidupi oleh para guru dan karyawan dalam karya pelayanan pendidikan. Melalui teladan Santo Ignatius, para pendidik dipanggil untuk mendampingi dan membimbing siswa-siswi secara utuh, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pertumbuhan rohani.

Di era modern yang sarat dengan berbagai persoalan hidup, pendidikan menjadi semakin krusial. Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, spiritualitas, dan akhlak. Melalui pembiasaan rohani dan pendidikan agama yang terintegrasi, siswa-siswi dibantu untuk menemukan makna hidup serta menumbuhkan iman di tengah tantangan zaman.

Kolaborasi Keluarga dan Sekolah dalam Pendidikan Iman

Pengembangan iman siswa membutuhkan kolaborasi yang erat antara keluarga dan sekolah. Proses ini idealnya dimulai sejak usia dini, bahkan sejak jenjang Taman Kanak-kanak. Keluarga menjadi fondasi utama melalui teladan hidup sehari-hari, seperti kebiasaan berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria.

Devosi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, misalnya doa Rosario pada bulan Mei dan Oktober, novena Santa Maria, litani Maria, Ratu Surga, maupun ziarah ke Gua Maria. Sementara itu, sekolah berperan memperkuat fondasi tersebut melalui pengajaran agama yang terstruktur dan pembiasaan rohani, seperti doa bersama, ziarah, serta kegiatan iman lainnya.

Sekolah juga membantu siswa-siswi mengamalkan nilai-nilai rohani melalui aksi nyata, seperti tindakan kasih kepada sesama, aksi sosial, solidaritas AAP atau APP, serta kepedulian terhadap korban bencana alam. Sinergi keluarga dan sekolah diharapkan mampu membentuk pribadi anak yang berintegritas, mampu menghadapi tantangan pergaulan, dan mengintegrasikan iman dalam seluruh aspek kehidupan.

Spiritualitas Maria della Strada di Era Modern

Dalam konteks pendidikan modern, spiritualitas Maria della Strada memperkuat iman siswa-siswi melalui pemahaman ajaran agama yang benar dan relevan. Nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati ditanamkan melalui pembiasaan doa bersama sebagai dasar pembentukan karakter.

Praktik ibadah, seperti doa, perayaan Ekaristi, devosi, rekoleksi, dan retret, juga terus dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran spiritual. Dengan demikian, generasi muda dibantu untuk tetap berpegang pada nilai-nilai religius di tengah arus modernisasi yang kian pesat.

Penanaman spiritualitas ini sebaiknya dimulai sejak usia dini. Salah satu contoh konkret adalah kegiatan yang dilakukan oleh TK Strada Budi Luhur pada bulan Mei dan Oktober. Para guru mengajak siswa-siswi berziarah dari Gua Maria di sekolah sambil berdoa Rosario, berjalan menuju dua Gua Maria yang berada di Paroki Sekolah, Paroki Bekasi, Gereja Santo Arnoldus Janssen, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama kepada Bunda Maria.

Penutup

Sinergi antara spiritualitas Maria della Strada dan nilai dasar Perkumpulan Strada, yaitu pelayanan, kejujuran, disiplin, kepedulian, dan keunggulan, perlu diwujudkan dalam pembiasaan hidup sehari-hari. Nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya hidup di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga, dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat, dan dalam relasi dengan sesama.

Dengan demikian, Perkumpulan Strada terus melangkah sebagai komunitas pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk pribadi-pribadi yang beriman, berkarakter, dan siap berjalan teguh di jalan kehidupan bersama Santa Maria della Strada. (Franciska Irene R. Kambong, Staf Khusus Bidang Pemasaran Strada Cabang Bekasi)