Oleh: Agustinus Karyanta
Staf Khusus Bidang Pemasaran Strada Cabang JPBS

Setiap tahun, musim Penerimaan Murid Baru (PMB) selalu menghadirkan dinamika yang serupa. Spanduk bermunculan, media sosial sekolah menjadi lebih aktif, dan berbagai program promosi dijalankan secara intensif. Namun, di balik geliat tersebut, tidak sedikit sekolah, khususnya sekolah swasta, yang tetap kesulitan memenuhi kuota murid.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah persoalannya terletak pada kurangnya promosi, atau justru pada cara sekolah memahami makna promosi itu sendiri? Dari pengalaman pendampingan di lapangan, persoalan PMB jarang disebabkan oleh minimnya upaya. Banyak sekolah telah bekerja keras dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Masalahnya lebih sering terletak pada strategi yang belum benar-benar tepat sasaran.

Promosi PMB kerap direduksi menjadi aktivitas pemasaran musiman. Fokusnya sebatas pada seberapa sering sekolah tampil di ruang publik dan seberapa luas jangkauan informasinya. Padahal, promosi PMB sejatinya merupakan bagian dari manajemen sekolah. Ia mencerminkan sejauh mana sekolah memahami calon murid dan orang tua, sekaligus seberapa jujur sekolah mengomunikasikan nilai, visi, dan budaya pendidikannya.

Salah satu kekeliruan yang cukup umum adalah anggapan bahwa semua orang tua memiliki pertimbangan yang sama. Kenyataannya, setiap jenjang pendidikan menghadirkan karakter audiens yang berbeda. Pada jenjang PAUD dan TK, keputusan hampir sepenuhnya berada di tangan orang tua. Rasa aman, pendekatan belajar yang menyenangkan, serta kualitas pendampingan guru menjadi pertimbangan utama.

Memasuki jenjang SD, perhatian orang tua mulai bergeser. Fondasi akademik, pembentukan karakter, dan reputasi sekolah menjadi semakin penting. Sementara itu, pada jenjang SMP dan SMA, orientasi orang tua dan siswa cenderung mengarah pada prestasi akademik, kesiapan melanjutkan pendidikan, serta peluang masa depan. Tanpa pemahaman terhadap perbedaan ini, promosi PMB mudah terjebak dalam pesan yang generik dan kurang relevan.

Dalam konteks ini, media digital sering dianggap sebagai solusi utama. Kehadiran di media sosial dan situs web diperlakukan seolah-olah sudah cukup untuk menjawab tantangan PMB. Padahal, media digital hanyalah alat. Tanpa strategi yang jelas, media tersebut justru berpotensi menjadi ruang informasi yang bising dan tidak bermakna.

Situs web sekolah, misalnya, kerap dibiarkan sebagai papan pengumuman statis. Padahal, bagi banyak orang tua, situs web merupakan kesan pertama terhadap sebuah sekolah. Kejelasan informasi PMB, visual kegiatan yang autentik, serta narasi yang mudah dipahami dapat membangun kepercayaan sejak awal. Hal serupa berlaku pada media sosial. Konten yang menampilkan keseharian sekolah, interaksi guru dan murid, serta proses belajar yang nyata biasanya jauh lebih meyakinkan dibandingkan unggahan promosi yang terlalu formal dan seragam.

Di luar media digital, terdapat aspek lain yang sering diabaikan, yaitu kolaborasi dengan lingkungan sekitar. Sekolah yang membangun jejaring dengan sekolah jenjang sebelumnya, komunitas lokal, atau tokoh masyarakat umumnya memiliki tingkat kepercayaan yang lebih kuat. Kegiatan edukatif seperti seminar parenting atau program sosial sering kali menjadi ruang promosi yang lebih alami dan tidak terasa memaksa.

Selain itu, promosi PMB yang efektif tidak berhenti pada penyampaian informasi. Banyak orang tua membutuhkan pengalaman langsung sebelum mengambil keputusan. Open house, kelas uji coba, atau kunjungan sekolah memberi kesempatan bagi calon murid dan orang tua untuk merasakan suasana belajar secara nyata. Dalam kondisi tertentu, tur virtual dan webinar juga dapat menjadi alternatif yang relevan.

Pada akhirnya, di tengah persaingan PMB, fasilitas dan program unggulan memang penting. Namun, yang sering menjadi penentu justru adalah narasi sekolah. Cerita tentang proses belajar, perkembangan murid, serta nilai-nilai yang dijaga dalam keseharian sekolah mampu membangun kedekatan emosional yang tidak dapat digantikan oleh daftar keunggulan teknis.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa promosi PMB yang efektif tidak selalu identik dengan anggaran besar atau aktivitas yang ramai. Ketepatan strategi dan kejelasan pesan jauh lebih menentukan. Promosi PMB yang tepat sasaran bukan hanya membantu sekolah memenuhi kuota, tetapi juga mempertemukan sekolah dengan keluarga yang memiliki visi pendidikan yang sejalan. Di titik inilah promosi PMB menemukan maknanya sebagai proses seleksi alami yang sehat bagi keberlanjutan sekolah.