Oleh: Emilia Kuswardani
SMP Strada Nawar

Baru-baru ini berita nasional digemparkan dengan kasus pelecehan di dalam grup chat oleh sekelompok mahasiswa kampus ternama di Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan menempati jabatan di organisasi kampus. Dalam waktu singkat, terungkap juga kasus-kasus serupa yang terjadi di berbagai kampus lain. Kejadian ini menjadi sebuah refleksi yang menyadarkan kita: Semudah itukah dunia maya mempengaruhi pikiran kita menjadi negatif? Sulitkah kita membangun hubungan yang sehat saat lingkungan mulai terjerumus dalam hal atau obrolan yang tidak lazim? Dalam dunia pendidikan hal ini tentu juga menimbulkan pertanyaan: Benarkah bahwa kecerdasaan intelektual seseorang tidak berbanding lurus dengan kedewasaan moral dalam dirinya?

Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, setiap orang menemukan tantangannya sendiri. Rasanya begitu sulit untuk lepas dari gadget atau internet dalam waktu yang lama. Gadget dan internet diciptakan untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi bahkan berkoordinasi. Benar adanya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan menjadi lebih mudah dan efisien melalui internet. Namun, disinilah tantangan baru muncul. Kemudahan yang dirasakan oleh seseorang kerap kali dapat disalahgunakan. Semula gadget yang berguna sebagai alat komunikasi berkembang seiring pertumbuhan teknologi. Kini, seseorang dapat dengan mudah berbagi aktivitas juga dapat melihat, mengakses, bahkan berkomentar di media sosial. Kebiasaan ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Seseorang menjadi mudah melihat dan mengomentari sesuatu, tidak hanya di dunia maya melainkan juga terbawa di dunia nyata.

ertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana menjaga nilai humanis di tengah derasnya arus digitalisasi?
Rhenald Kasali (2017:148) berpendapat bahwa di balik intelektualitas, gelar akademis, profesi, dan jabatan besar selalu ditemui ”jiwa-jiwa merintih”, yang dalam bahasa perilaku organisasi disebut sebagai miss behavior. Contohnya adalah arogan, reaktif, mudah curiga, selalu menyangkal, susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah, gemar mempermasalahkan orang-orang hebat, dan senang mempertontonkan kehebatan sekaligus mengolok-olok orang lain.

Perkembangan teknologi yang sudah mulai digunakan oleh anak usia dini perlu didampingi oleh orang tua maupun sekolah/lembaga pendidikan. Tidak sedikit anak yang mulai kecanduan dan tidak bisa lepas dari gadget. Perubahan pola pikir kini menjadi pilar utama mendampingi perubahan. Setiap anak mungkin akan mengalami fase inflexibility atau ketidakmampuan untuk berubah. Namun, pendidikan dapat merubah mereka jika pendidik mau mengembangkan makna belajar yang sesungguhnya. Sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Perlu peran orang tua yang mendampingi anak-anak dalam proses belajarnya mengenal nilai, sikap, dan cara menjadi manusia. Orang tua berperan besar dalam membentuk karakter dan emosi anak. Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri. Tanpa peran orang tua, nilai-nilai humanis akan sulit tumbuh dalam diri anak. Muhammad Faisal (2014: 106) mengatakan bahwa orang tua perlu lebih adaptif dalam membaca situasi. Anak yang memiliki bonding kuat dengan orang tua lebih memiliki koneksi emosional yang baik dan pada akhirnya mampu membedakan hal yang baik dan buruk.

Dokumentasi SMP Strada Nawar – Family Bonding Activity

Bagaimana dengan lembaga Pendidikan? Kasus yang terjadi menjadi pengingat kita bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur pada capaian akademik yang diperolehnya. Sekolah perlu kembali pada esensinya yaitu menciptakan manusia yang utuh. Proses pendidikan di sekolah hendaknya terus menghadirkan kegiatan yang dapat menanamkan nilai-nilai karakter yang peduli dan peka terhadap orang lain.

Dokumentasi SMP Strada Nawar – Aksi Peduli Sesama

Thomas Lickona (1991:50) mengemukakan pendapat bahwa pendidikan karakter perlu dibangun dari habit atau kebiasaan yang berulang. Apabila sekolah konsisten untuk melakukan pembiasaan dengan tetap mengikuti perkembangan zaman maka akan terbetuk budaya positif bagi sekolah tersebut maupun bagi guru dan muridnya. Salah satu pembiasaan yang relevan dan dapat dilakukan di sekolah adalah literasi. Apabila seseorang terbiasa untuk berliterasi maka tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya mampu berliterasi digital dengan penuh tanggung jawab. Tidak hanya sekedar menggunakan gadget atau internet melainkan mampu memeriksa kebenaran informasi dan menggunakan internet secara bijak.

Dokumentasi SMP Strada Nawar – Literasi di Ruang Perpustakaan

Pada akhirnya kita perlu kembali melihat lebih dalam bahwa era digital bukanlah musuh dari sikap humanis. Perkembangan teknologi saat ini hanyalah sebuah alat. Yang dapat melihatnya menjadi peluang atau ancaman bergantung dari bagaimana kita menggunakannya. Tugas sebagai pendidik tidak hanya menciptakan lulusan yang siap menyambut tantangan zaman tetapi menjadikan mereka pribadi yang memiliki hati dan nurani di tengah pergaulan dalam era digital.