Jakarta, 18 Mei 2026, suasana hangat dan penuh makna terasa di Auditorium M. Yusuf Ronodipuro dalam acara Launching dan Bedah Buku Kumpulan Cerpen Edukatif, yang menghadirkan dua karya Romo Odemus Bei Witono, SJ yang inspiratif: Ragam Kisah di Balik Awan dan Selubung Didik Karakter. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni peluncuran buku, melainkan sebuah perayaan gagasan, nilai, serta pengalaman hidup yang dituangkan dalam karya sastra.
Kegiatan launching dan bedah buku ini dihadiri oleh para unsur pimpinan dan guru di Perkumpulan Strada, pendidik, akademisi, praktisi serta para pemerhati pendidikan dan dunia literasi. Acara dibuka oleh pembawa acara yang mengajak semua yang hadir untuk melihat kembali pentingnya kehadiran buku sebagai sumber kekayaan literasi dan media menuangkan hasil olah rasa, olah karsa, dan olah pikir di tengah dunia yang serba cepat. Momentum ini juga menjadi bagian dari peringatan ulang tahun ke-102 Perkumpulan Strada, dengan tujuan memperkuat budaya literasi dan refleksi dalam upaya menghadirkan pendidikan karakter yang berdampak dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan seremonial pembukaan dan menyanyikan lagu kebangsaan yang menegaskan nilai persatuan, kejujuran, disiplin, dan semangat pelayanan. Selanjutnya, kegiatan dibuka dengan doa pembuka memohon berkat atas terselenggaranya acara serta inspirasi bagi karya-karya pendidikan di masa depan.

Dalam pengantar acara, disampaikan bahwa sebelumnya telah hadir buku Selubung Didik Karakter, dan kini diluncurkan karya terbaru Ragam Kisah di Balik Awan yang diharapkan semakin memperkaya khasanah literasi edukatif di Indonesia.
Sambutan disampaikan oleh Bapak Devix Heriyono perwakilan dari PT. Kanisius yang menekankan bahwa karya sastra memiliki kekuatan reflektif yang mampu menyentuh pengalaman hidup pembacanya. Pesan yang disampaikan juga menegaskan harapan agar buku ini dapat memantik diskusi serta refleksi atas realitas sosial sehari-hari.
Puncak acara ditandai dengan peluncuran resmi buku Ragam Kisah di Balik Awan, diikuti dengan sambutan dari penulisnya, Romo Odemus Bei Witono, SJ. Dalam sambutannya, beliau menyoroti tantangan literasi di Indonesia yang masih rendah berdasarkan berbagai studi internasional, sekaligus mengajak semua pihak untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Beliau juga menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membentuk karakter, karena melalui cerita, nilai-nilai kehidupan dapat disampaikan secara halus namun mendalam. Dalam refleksinya, Romo Odemus Bei Witono, SJ menyampaikan bahwa minat baca generasi muda menghadapi tantangan besar, terutama dengan hadirnya distraksi digital. Namun demikian, sastra tetap memiliki kekuatan untuk membangun empati, memperluas perspektif, dan membentuk karakter.
Acara semakin semarak dengan penampilan musikalisasi puisi dan pertunjukan dari siswa-siswi SMP Strada Marga Mulia. Penampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat pesan bahwa seni dan sastra dapat berjalan beriringan dalam membentuk jiwa muda yang kreatif dan berkarakter. Setelah terhibur dengan penampilan para sisa-siswi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi bedah buku.

Pada sesi bedah buku, ibu Bernadeta Winda Aurelia, S.Pd, M.M, Kepala SMK Strada Budi Luhur dipercaya sebagai moderator yang akan memandu jalannya diskusi Bersama para narasumber. Sesi bedah buku kali ini menghadirkan dua narasumber, Oma Threes Emir seorang penulis dan novelis kenamaan dan Bapak Muhammad Najib Azca, M.A., Ph.D, sosiolog sekaligus akademisi yang saat ini menjabat sebagai Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN. Diskusi menyoroti bagaimana cerita pendek mampu menyampaikan nilai kehidupan secara efektif.
Oma Threes menegaskan bahwa membaca, bahkan melalui cerita pendek, dapat secara perlahan mengubah cara pandang dan karakter seseorang. Selain itu, dibahas pula tantangan dalam menjangkau generasi Z yang lebih akrab dengan media audiovisual. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kreatif agar literasi tetap relevan dan menarik bagi mereka. Bapak Muhammad Najib Azca, M.A., Ph.D dari perspektif akademis menekankan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif jika disampaikan melalui narasi, bukan sekadar instruksi langsung. Beliau menambahkan dan juga menekankan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menumbuhkan minat baca siswa, serta mengajak mereka untuk terlibat aktif dalam diskusi dan analisis teks. Menjelang akhir acara, para narasumber mengajak seluruh peserta, khususnya para pendidik, untuk meninggalkan warisan melalui tulisan. Menulis dipandang sebagai cara untuk menjaga ingatan, menyebarkan nilai, dan memberi inspirasi lintas generasi.
Acara ditutup dengan doa penutup yang penuh syukur atas kelancaran kegiatan serta harapan agar semangat literasi dan pendidikan karakter terus berkembang. Kegiatan launching dan bedah buku ini menjadi bukti nyata bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan peradaban. Melalui karya seperti Ragam Kisah di Balik Awan dan Selubung Didik Karakter, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan emosional.