Maria Sri Wulandari
Pendidik di Perkumpulan Strada

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan kaum tertindas merupakan kritik tajam terhadap praktik pendidikan yang ia sebut sebagai banking education atau pendidikan gaya bank. Dalam model ini, proses pembelajaran dipahami sebagai aktivitas “menabungkan” pengetahuan dari guru kepada siswa. Guru diposisikan sebagai subjek yang serba tahu, sementara siswa menjadi objek yang pasif, hanya menerima, mencatat, dan menghafal informasi. Relasi yang terbangun bersifat satu arah dan hierarkis. Siswa diibaratkan seperti mesin ATM atau rekening kosong yang diisi terus-menerus tanpa diberi ruang untuk bertanya, meragukan, atau merefleksikan realitas yang mereka alami. Pendidikan semacam ini, menurut Freire, tidak membebaskan, melainkan justru melanggengkan ketidakadilan karena membius kesadaran kritis peserta didik.

Sebagai respons atas kritik tersebut, Freire menawarkan konsep problem-posing education atau pendidikan hadap-masalah. Dalam pendekatan ini, guru dan siswa ditempatkan sebagai subjek yang sama-sama belajar. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator dialog yang membuka ruang bagi pengalaman dan refleksi siswa untuk menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Relasi yang terbangun bersifat dialogis, partisipatif, dan transformatif. Melalui dialog, guru dan siswa bersama-sama membaca realitas, mengidentifikasi persoalan, serta mencari jalan keluar secara kritis dan reflektif.

Konsep pendidikan hadap-masalah mengandaikan bahwa peserta didik harus dihadapkan secara sadar pada persoalan nyata yang terjadi dalam kehidupannya. Pendidikan tidak boleh terlepas dari konteks sosial, budaya, dan lingkungan tempat siswa hidup. Dengan demikian, pembelajaran menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran kritis (conscientization), yaitu kemampuan untuk memahami realitas secara mendalam sekaligus terdorong untuk melakukan perubahan. Bagi Freire, dialog bukan sekadar percakapan biasa, melainkan perpaduan antara refleksi dan aksi (praxis). Refleksi tanpa aksi akan melahirkan verbalitas kosong, sementara aksi tanpa refleksi berpotensi menjadi tindakan tanpa arah. Oleh karena itu, pendidikan yang membebaskan harus memadukan keduanya.

Pemikiran Freire tersebut relevan diterapkan dalam konteks pendidikan di sekolah, termasuk di SMK Strada II. Salah satu praktik baik yang mencerminkan pendidikan hadap-masalah adalah gerakan kepedulian lingkungan melalui program sekolah Adiwiyata. Dalam program ini, siswa tidak hanya menerima materi tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan nyata yang berkaitan langsung dengan persoalan ekologis. Misalnya, siswa dibiasakan menjaga dan merawat kebersihan lingkungan sekolah, memilah sampah organik dan anorganik, mengolah daun-daun kering menjadi pupuk organik, menanam pohon perindang. Dalam pengolahan sampah sudah disediakan tempat sampah yang terpisah antara botol plastik dan sisa makanan.

engelolaan sampah dengan cara memilah, mengumpulkan kertas bekas yang sudah dicacah, kardus, dan botol plastik, botol kaca dipilah ditaruh di Bank Sampah Sekolah lalu disalurkan ke Bank Sampah Induk bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Kecamatan Tamansari. Bank sampah sekolah berfungsi sebagai sarana pembelajaran sekaligus praktik nyata pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Setiap bulan, Bank Sampah Induk secara rutin mengambil dan menimbang sampah yang telah dikumpulkan. Hasil penjualan sampah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung program beasiswa bagi siswa, terutama mereka yang kurang mampu maupun yang berprestasi, sehingga kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kepedulian lingkungan, tetapi juga menjadi berkat. Walaupun jumlah beasiswa yang dihasilkan belum banyak, program ini menjadi langkah awal yang bermakna dalam mendukung siswa yang membutuhkan.

Kegiatan lain yang dilakukan siswa adalah setiap hari jumat mengumpulkan minyak goreng bekas atau jelantah yang dikoordinir oleh pengurus osis. Minyak goreng bekas atau jelantah ini disalurkan kepada lembaga swadaya masyarakat yang mengolahnya menjadi biodiesel. Kesadaran ini penting karena jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air serta merusak ekosistem. Selain itu, budaya disiplin dan tanggung jawab terhadap lingkungan diwujudkan melalui piket kelas harian. Siswa dibiasakan mematikan kipas angin dan lampu penerangan ketika meninggalkan ruang kelas sebagai bentuk penghematan energi. Di sisi lain siswa juga belajar membuat dan merawat tanaman hidroponik sebagai alternatif pertanian ramah lingkungan di lahan terbatas. Melalui praktik hidroponik, siswa memahami pentingnya efisiensi air, pengelolaan nutrisi tanaman, serta ketahanan pangan sederhana di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menumbuhkan kreativitas, keterampilan teknis, sekaligus kesadaran bahwa solusi ekologis dapat dimulai dari langkah kecil yang terencana.

Sekolah juga memiliki kolam ikan yang dirawat bersama sebagai bagian dari pembelajaran kepedulian lingkungan. Pengurus osis mendapatkan jadwal piket untuk memantau kondisi kolam, termasuk mengukur kualitas air dan memastikan ekosistem kecil tersebut tetap terjaga dengan baik. Selain itu, penggunaan air di lingkungan sekolah dilakukan secara bijak dan seperlunya, sementara kebersihan toilet diawasi secara rutin sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Kegiatan kerja bakti dilaksanakan secara berkala, dan peringatan hari-hari lingkungan hidup dimanfaatkan sebagai momentum edukatif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif serta membangun karakter siswa yang peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Jika dilihat dari perspektif Freire, seluruh aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan proses pendidikan yang membangun kesadaran kritis. Siswa tidak hanya diberi tahu bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi diajak memahami dampak nyata dari perilaku manusia terhadap bumi. Mereka belajar bahwa tindakan kecil seperti memilah sampah atau mematikan lampu memiliki konsekuensi ekologis yang luas. Dalam proses ini, terjadi dialog antara pengetahuan teoretis dan pengalaman praktis. Siswa dapat merefleksikan kebiasaan mereka di rumah, mendiskusikan masalah sampah di lingkungan sekitar, dan bersama-sama mencari solusi.

Gerakan ini berpotensi membentuk karakter siswa yang peduli, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran keberlanjutan. Pendidikan tidak lagi berhenti pada ranah kognitif, tetapi menyentuh aspek afektif dan psikomotorik. Siswa belajar menjadi subjek yang aktif, bukan objek yang pasif. Mereka dilatih untuk melihat realitas, mengkritisinya, dan mengambil bagian dalam perubahan, meskipun dimulai dari lingkup sekolah. Dengan demikian, penerapan pendidikan hadap-masalah di sekolah melalui program kepedulian lingkungan menunjukkan bahwa pemikiran Freire tetap relevan dalam konteks pendidikan masa kini. Pendidikan yang membebaskan bukanlah pendidikan yang hanya mentransfer pengetahuan, melainkan pendidikan yang membangkitkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata. Melalui praktik-praktik sederhana namun konsisten, sekolah dapat menjadi ruang pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen moral untuk menjaga keberlanjutan bumi yang menjadi rumah bersama.