Oleh: Erminia Adestyani
Pendidik di SMP Strada Budi Luhur

     “The first job of schools is to care.”- Nel Noddings.

Pagi itu, saya berdiri di depan gerbang sekolah dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Udara masih sejuk, halaman belum sepenuhnya ramai, tetapi satu per satu anak mulai datang. Ini adalah kali pertama saya menyambut mereka langsung di depan gerbang, bukan dari balik meja piket, bukan dari dalam kelas, melainkan di titik awal kedatangan mereka ke sekolah.

Awalnya saya mengira ini hanya kegiatan sederhana. Berdiri, tersenyum, menyapa. Namun, dalam hitungan menit, saya menyadari bahwa gerbang sekolah menyimpan lebih banyak cerita daripada yang saya bayangkan. Setiap anak datang dengan caranya sendiri. Ada yang berlari kecil sambil tertawa, ada yang berjalan pelan sambil menunduk, ada yang ingin menyapa guru-guru yang berdiri di sana tapi ragu, ada pula yang masih menggenggam erat tangan orang tuanya seolah belum siap melepaskan.

Di antara arus kedatangan itu, perhatian saya tertuju pada beberapa anak yang sejak pagi sudah pergi ke kantin. Mereka datang lebih awal dan memilih mie instan sebagai sarapan. Pemandangan itu sederhana, tetapi cukup membuat saya berpikir sejenak. Saya tidak melihatnya sebagai kesalahan, melainkan sebagai penanda: mungkin tadi pagi di rumah mereka terburu-buru, mungkin tidak sempat sarapan, atau mungkin itu satu-satunya pilihan yang tersedia.

Ketika mereka melintas di depan gerbang dengan cup mie hangat di tangan, saya menyapa dengan nada yang sama hangatnya. Saya bertanya apakah perut mereka aman jika diawali sarapan dengan mie instan. Dari jawaban-jawaban singkat mereka, saya belajar bahwa perhatian kecil di pagi hari dapat membuka ruang dialog yang sederhana tetapi bermakna. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan mereka merasa diperhatikan.

Yang menarik, sapaan pagi itu tidak hanya saya berikan kepada anak-anak dari unit kami. Di komplek sekolah yang sama, ada anak-anak SD dan SMK yang datang dengan ritme dan dunia mereka masing-masing. Saya menyapa mereka semua, tanpa sekat jenjang atau seragam. Ada anak SD yang tersenyum malu-malu, ada siswa SMK yang tingginya jauh melampaui saya tetapi tetap bersikap sopan. Dalam momen itu, saya merasakan bahwa gerbang sekolah adalah ruang bersama, ruang pertemuan bagi berbagai tahap tumbuh kembang anak.

Pengalaman ini sejalan dengan temuan dalam Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan yang dilakukan oleh Kusumaningrum dan Suryanto (2019). Dalam penelitian mereka disebutkan bahwa dukungan guru yang hangat dan responsif berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan dan kesiapan belajar siswa. Sapaan pagi yang hangat, meskipun singkat, ternyata bukan hanya rutinitas, tetapi juga bentuk dukungan sosial yang dirasakan siswa sejak awal hari.

Di depan gerbang sekolah, saya semakin memahami bahwa anak-anak tidak pernah datang dengan kondisi yang benar-benar kosong. Mereka membawa rumah mereka, pagi mereka, dan perasaan mereka. Ada yang datang dengan hati ringan, ada pula yang membawa beban yang tak terlihat. Kehadiran orang dewasa yang menyambut dengan tenang dan hangat ternyata bisa menjadi penyangga emosional sebelum mereka menjalani hari.

Penelitian Wahyuni (2018) dalam Jurnal Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau juga menunjukkan bahwa school connectedness rasa keterhubungan siswa dengan lingkungan sekolah berhubungan dengan kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik. Gerbang sekolah, bagi saya, bukan lagi sekadar pintu masuk. Ia adalah ruang transisi emosional, tempat anak-anak melepaskan dunia luar dan bersiap menghadapi hari belajar. Kehadiran orang dewasa di ruang ini, dengan sikap yang tenang dan penuh penerimaan, bisa menjadi pemenuh apa yang diam-diam mereka butuhkan.

Menurut Dede Rosyada, dalam pendidikan modern sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang membangun karakter dan rasa percaya diri peserta didik. Ketika guru menunjukkan perhatian, bahkan melalui hal sederhana seperti menyapa atau memperhatikan kondisi siswa di pagi hari, hal tersebut dapat meningkatkan kenyamanan belajar serta membangun iklim sekolah yang positif.

Pengalaman sederhana ini mengubah cara pandang saya tentang pendidikan. Pendidikan tidak selalu dimulai dengan materi pelajaran atau aturan kelas. Pendidikan bisa dimulai dari kehadiran, dari kesediaan untuk melihat, menyapa, dan menerima anak apa adanya di pagi hari. Dari hal kecil yang mungkin tampak sepele, tetapi sangat berarti bagi anak.

Kini, setiap kali saya berdiri dan menyambut kehadiran anak di depan gerbang, saya selalu mengingat satu hal: mungkin saya tidak tahu persis apa yang sedang mereka hadapi, tetapi saya bisa menjadi orang pertama di sekolah yang membuat mereka merasa aman hari itu. Karena di ambang gerbang itulah, pendidikan yang manusiawi dan penuh kepedulian benar-benar dimulai.