Husna Selviana
Guru SMP Strada Santo Fransiskus Xaverius 2

Sebagai seorang guru yang hampir setiap hari selalu berinteraksi dengan peserta didik, belakangan ini penulis semakin sering merenungkan perubahan karakter belajar generasi saat ini. Peserta didik tahun ini adalah genarasi alpha. Generasi alpha adalah anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 dan tumbuh bersama teknologi digital. Mereka memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap teknologi, khususnya dalam penggunaan smartphone dan internet. Mereka terbiasa mencari informasi secara cepat menggunakan internet, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi yang lain dalam hitungan detik untuk medapatkan sumber informasi yang mereka inginkan tanpa harus berfikir mendalam dan tidak jarang tanpa menelusuri sumbernya. Di balik kelebihan tersebut, penulis juga mengamati kecenderungan yang perlu diperhatikan bersama yaitu kemudahan tersebut perlahan membentuk kebiasaan baru yaitu keinginan untuk mendapatkan hasil secara cepat dan instan tanpa melalui proses berfikir yang mendalam sehingga peserta didik cenderung malas untuk berfikir.


Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan merupakan simulasi kecerdasan manusia yang dimodelkan dalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir, belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Sampai saat ini, ada berbagai jenis AI yang dimanfaatkan oleh manusia, seperti asisten virtual, mesin pencari, penunjuk navigasi, robotics dan masih banyak yang lain. Anak-anak di salah satu sekolah mengenal AI dalam nama ChatGPT, Gemini, atau Meta. Mengapa? karena aplikasi-aplikasi tersebut mudah ditemukan peserta didik di smartphone mereka. Peserta didik merasa bahwa aplikasi ini mampu merangkum materi dan menyelesaikan soal dengan sangat cepat. Kecepatan inilah yang sering dianggap sebagai kemudahan tanpa batas oleh peserta didik. Akan tetapi, berdasarkan pengamatan penulis di kelas, tidak sedikit siswa yang mengira bahwa AI dapat memahami maksud peserta didik meskipun mereka hanya menuliskan kata kunci singkat tanpa pertanyaan yang jelas. Beberapa kali penuis mendapati peserta didik ketika diberi tugas dengan memanfaatkan teknologi mereka langsung membuka aplikasi berbasis kecerdasaan buatan untuk menanyakan jawaban dari soal yang diberikan oleh guru.

Mereka langsung memberikan dua atau tiga kata kunci, lalu menunggu jawaban lengkap muncul di layar ponsel, ketika jawaban tidak sama dengan apa yang mereka harapkan mereka mengatakan AI yang kurang tepat. Padahal setelah penulis perhatikan, mereka kurang tepat dalam memberikan perintah yang jelas hanya potongan kata tanpa konteks, tanpa tujuan yang jelas dan terarah. Padahal, AI bekerja berdasarkan instruksi. AI memerlukan perintah yang runtut, jelas, dan spesifik. Jika peserta didik hanya menuliskan beberapa kata tanpa konteks jawaban yang dihasilkan tentu tidak akan sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini, AI justru mengajarkan hal yang sangat penting yaitu untuk mendapatkan jawaban yang baik peserta didik harus mampu merumuskan pertanyaan yang baik. Artinya, kemampuan berfikir kritis dan sistematis tetap menjadi kunci utama dalam berfikir. Ironisnya, sebagai peserta didik ingin hasil cepat dan tepat tetapi tidak mau meluangkan waktu untuk berfikir secara sistematis dan krritis sebelum bertanya. Mereka berharap AI paham apa yang mereka maksud tanpa mereka jelaskan secaara spesifik, tetapi ketika hasilnya kurang tepat AI dianggap tidak membantu. Disinilah tantangan Pendidikan modern muncul, sebagai seorang guru harus mampu mengolah pola pikir peserta didik supaya bisa memahami AI secara bijak.


Kebiasaan serba instan ini bukan sepenuhnya kesalahan peserta didik karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat. Dunia digital membiasakan mereka pada respons instan, namun pendidikan tidak bisa hanya mengikuti arus tersebut tanpa arah. Sekolah tetap harus menjadi ruang untuk melatih kesabaran, ketekunan membaca dan keberanian menyususn gagasan sendiri. Kecepatan ini berpotensi mengurangi daya juang berpikir peserta didik. Mereka menjadi kurang sabar dalam membaca soal secara lengkap, kurang teliti dalam memahami konteks, dan kurang terbiasa menyusun gagasan sendiri. Jika hal ini dibiarkan, dapat berdampak pada kemampuan analisis jangka panjang padahal dalam dunia nyata, tidak semua persoalan memiliki jawaban instan. Namun demikian, penuis tidak memandang AI sebagai musuh Pendidikan, sebaliknya AI sangat bermanfaat dan membantu peserta didik memahami konsep sulit, memperkaya referensi, serta melatih keterampilan menyusunn instruksi yang efektif jika diarahkan dengan benar. Bahkan penggunaan AI bisa menjadi alat bantu untuk memperdalam pemahaman, yang perlu kita tekankan kepada generasi saat ini yaitu bahwa teknologi hanyalah sebuah alat. AI tidak bisa mengantikan proses berfikir, kreativitas, maupun integritas seseorang. Jika peserta didik menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menemukan dan menyalin jawaban tanpa memahami isinya, maka proses belajar akan kehilangan maknanya. Pendidikan bukan sekedar tentang menemukan jawaban, tetapi tentang membangun pemahaman.


Guru perlu menanamkan kesadaran bahwa kecepatan bukanlah segalanya. Instan bukan berarti tanpa usaha. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari AI, peserta didik juga harus tetap membaca dengan teliti, menyusun pertanyaan secara lengkap, serta mengevaluasi kembali jawaban yang diterima tidak hanya menerima “mentah” tanpa di cek kembali. Dengan demikian, AI justru menjadi media latihan berfikir bukan jalan pintas untuk menghindari proses. Gen alpha dan AI sebenarnya dapat berjalan beriringan, generasi yang tumbuh bersama teknologi seharusnya memapu memanfaatkannya secara cerdas dan bertanggung jawab. Tantangan kita sebagai pendidik adalah membimbing peserta didik agar tidak terjebak pada budaya instan, tetapi tetap memiliki ketekunan, ketelitian, dan daya nalar yang kuat untuk saat membaca.


Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi berkembang melainkan oleh seberapa bijak generasi muda menggunakannya. Jika peserta didik mampu memadukan kecepatan teknologi dengan kedalaman berfikir, maka AI bukanlah sebuah ancaman, melainkan mitra dalam membangun pembelajaran yang lebih bermakna.