Oleh: Gilang Bangsa
SMK Strada Budi Luhur
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan gaya belajar generasi muda, kegiatan Pramuka kerap diberi label sebagai aktivitas yang membosankan, kaku, dan tidak lagi relevan. Tidak sedikit siswa mengikuti Pramuka semata karena kewajiban, bukan karena ketertarikan. Stigma ini seolah menjadi kesimpulan umum yang diterima tanpa dipertanyakan. Padahal, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah Pramuka benar-benar membosankan, atau justru cara penyajiannya yang tertinggal oleh perkembangan zaman?
Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa Pramuka tetap relevan ketika dikemas secara kreatif dan kontekstual. Hal inilah yang melatarbelakangi terbentuknya SIGMA (Ambalan Soegijapranata dan Maria Della Strada) Scout Outbound Crew, sebuah tim outbound Pramuka di SMK Strada Budi Luhur. Dalam kurun satu tahun terakhir, SIGMA Scout Outbound Crew telah lima kali memfasilitasi kegiatan outbound bagi peserta dari jenjang SMP hingga TK. Kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berfokus pada materi teknik kepramukaan seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB), tetapi juga outbound berbasis pos permainan yang menekankan nilai kerja sama, kepemimpinan, keberanian, serta tanggung jawab.

Seluruh kegiatan dilaksanakan di Strada Dragonfly Youthcamp Toyogiri Tambun, sebuah bumi perkemahan milik Perkumpulan Strada yang difungsikan sebagai pusat pengembangan karakter peserta didik. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, mulai dari lapangan terbuka hingga berbagai wahana edukatif seperti batu tata, jaring laba-laba, jembatan, panjat tebing mini, kolam lumpur, kolam berayun, serta lintasan merangkak. Lingkungan alam yang masih asri di tengah padatnya kawasan Bekasi, yang dirancang untuk pembelajaran berbasis pengalaman, menjadikan tempat ini ruang belajar yang hidup, menantang, sekaligus menyenangkan bagi peserta.
Dalam setiap kegiatan, Dewan Ambalan SIGMA berperan aktif sebagai fasilitator. Mereka bertugas sebagai instruktur PBB, penjaga pos permainan, penilai kegiatan, sekaligus pemandu yang memastikan keamanan peserta. Pendekatan sebaya ini membuat peserta merasa lebih nyaman karena didampingi oleh kakak-kakak Pramuka, bukan semata oleh guru yang terkadang menimbulkan jarak psikologis. Dampaknya terlihat jelas. Peserta SMP menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti kegiatan, sementara peserta TK tampak lebih berani, aktif, dan percaya diri.
Penelitian dalam Journal of Adventure Education and Outdoor Learning menunjukkan bahwa kegiatan outbound mampu meningkatkan kepemimpinan, kerja sama, dan kepercayaan diri peserta karena pembelajaran berlangsung melalui tantangan nyata di alam terbuka (Priest dan Gass, 2017). Dalam konteks kegiatan ini, siswa SMK tidak hanya memahami nilai tanggung jawab dan kepemimpinan secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung ketika mendampingi adik-adik peserta. Temuan ini sejalan dengan penelitian Berkowitz dan Bier (2005) yang menyatakan bahwa peran sebagai mentor sebaya dapat meningkatkan empati, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial peserta didik.

Manfaat kegiatan ini dirasakan oleh berbagai pihak. Bagi siswa SMK, kegiatan outbound melatih karakter ngemong, yaitu sikap merawat, menjaga, dan bertanggung jawab terhadap adik kelas, sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan umum, disiplin, dan kepemimpinan. Mereka juga memperoleh pengakuan berupa Tanda Kecakapan Khusus (TKK). Bagi pembina SMK, kegiatan ini mempererat persaudaraan antarsatuan pendidikan sekaligus menjadi sarana promosi sekolah yang positif. Pembina dari sekolah peserta pun merasa terbantu karena seluruh rangkaian kegiatan dirancang, dilaksanakan, dan direfleksikan secara sistematis. Sementara itu, bagi peserta SMP dan TK, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan serta mampu meningkatkan keberanian, kerja sama, dan kecintaan terhadap alam.
Baden-Powell, pendiri Gerakan Pramuka Dunia, pernah menegaskan bahwa “the best progress is made in those troops where power and responsibility are really put into the hands of the scouts.” Kutipan ini menegaskan bahwa Pramuka akan hidup ketika peserta didik diberi ruang untuk berperan dan memikul tanggung jawab secara nyata.
Pada akhirnya, Pramuka tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia hanya kehilangan daya tarik ketika disajikan tanpa kreativitas dan keberanian untuk beradaptasi dengan konteks zaman. Pengalaman SIGMA Scout Outbound Crew menunjukkan bahwa Pramuka dapat menjadi ruang tumbuh yang menyenangkan, bermakna, dan kontekstual. Tantangan Pramuka masa kini bukan terletak pada eksistensinya, melainkan pada cara menghidupkannya. Ketika Pramuka dibawakan secara kreatif dan partisipatif, stigma “membosankan” akan runtuh dengan sendirinya.