Oleh Priskalia Niken Widowati
Pengawas TK SD Strada Cabang Bekasi
Bencana banjir yang baru-baru ini terjadi di beberapa wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya bukan semata-mata akibat curah hujan yang tinggi. Peristiwa tersebut juga berkaitan erat dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang serba cepat, kurang ramah lingkungan, serta kebiasaan membuang sampah plastik dan limbah rumah tangga secara sembarangan. Sampah-sampah itu hanyut terbawa genangan air kecoklatan yang menerobos pintu dan dinding bangunan. Alam seolah menunjukkan caranya sendiri untuk berteriak dan mengingatkan manusia tentang relasi yang keliru dengan lingkungan sekitar.
Cuplikan film pendek Pulau Plastik menjadi pengingat kuat bahwa manusia perlu segera bertindak menghadapi polusi plastik sekali pakai yang kian melanda Indonesia. Sampah plastik yang mencemari lautan akan terurai menjadi mikroplastik dan pada akhirnya kembali ke tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari. Situasi ini menunjukkan bahwa krisis ekologis bukan persoalan jauh, melainkan dekat dan menyentuh kehidupan sehari-hari.
Pertobatan ekologis tidak cukup berhenti sebagai slogan dalam komunitas pendidikan. Ia perlu menjadi ajakan yang mendesak untuk bangkit dan melakukan tindakan nyata, dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap individu dan seluruh komunitas pendidikan. Maru et al. (2024:3) memaknai ekologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antarmakhluk hidup dan lingkungannya. Dalam relasi ini, manusia sebagai komponen biotik dan air sebagai komponen abiotik saling terikat satu sama lain. Manusia membutuhkan air untuk keberlangsungan hidup, sehingga sudah semestinya manusia merawat air dengan tidak mencemarinya, termasuk dengan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memicu banjir.
Rattu dan Mulalinda (2025:189) menyatakan bahwa salah satu penyebab utama tindakan perusakan alam adalah rendahnya kesadaran bahwa perilaku manusia dapat memicu kerusakan lingkungan, serta minimnya pengetahuan tentang lingkungan hidup. Dalam konteks pendidikan, pendidik memegang peranan strategis untuk menumbuhkan kesadaran tersebut melalui pembelajaran dan pembiasaan yang berkelanjutan. Upaya konkret yang dapat dilakukan antara lain menolak penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, menggunakan sumber daya secara bijak, serta mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat.
Husin (2019:234) menegaskan pentingnya pengetahuan lingkungan hidup bagi pendidik agar mampu menyadari potensi sekolah sebagai pusat penyemaian nilai-nilai ekologis. Nilai-nilai tersebut tidak hanya ditanamkan melalui materi pembelajaran, tetapi juga dialami langsung oleh peserta didik melalui interaksi sehari-hari, atmosfer sekolah, pengondisian lingkungan, disiplin, norma yang dikembangkan, serta peringatan atau momen khusus yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Berdasarkan pengalaman empiris dalam kegiatan Eco Camp, peserta didik perlu diperkenalkan pada tujuh kesadaran baru hidup ekologis. Kesadaran pertama adalah hidup berkualitas, yakni menyadari bahwa setiap manusia terlahir sebagai pribadi yang memiliki kemampuan mengolah hati, pikiran, dan kehendak untuk memperlakukan alam secara bijak. Kesadaran kedua adalah hidup sederhana, dengan menumbuhkan rasa syukur atas apa yang dimiliki dan memberi ruang bagi alam untuk bernapas.
Kesadaran ketiga adalah hidup hemat. Peserta didik diajak untuk menghemat air dan listrik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah organik dan anorganik, menanam serta merawat pohon, dan mulai menggunakan sarana transportasi yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran keempat adalah peduli, yaitu kepekaan terhadap keberlangsungan sesama dan lingkungan sekitar melalui perilaku menjaga kebersihan dan memberi teladan hidup ramah lingkungan.
Kesadaran kelima adalah semangat berbagi. Peserta didik diajak membangun kebiasaan berbagi dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal sederhana seperti berbagi waktu, perhatian, dan kepedulian kepada orang-orang terdekat. Kesadaran keenam adalah hidup bermakna, yang tidak diukur dari besarnya keberhasilan, melainkan dari ketulusan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana, termasuk saat merawat tanaman di lingkungan sekolah.
Kesadaran ketujuh adalah harapan. Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan setia akan membawa perubahan besar bagi alam yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Harapan itu terwujud dalam lingkungan dengan udara bersih, tanah yang subur, dan kehidupan yang berkelanjutan.
Dengan menghidupi ketujuh kesadaran tersebut, peserta didik diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan hidup dan pelestarian alam. Pendidikan menjadi sarana penting untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis.

Salah satu bentuk konkret perubahan gaya hidup ekologis adalah praktik makan hening. Kebiasaan ini dapat diterapkan di rumah bersama keluarga maupun di sekolah saat makan bekal bersama. Keheningan saat makan mengajak peserta didik untuk fokus pada makanan yang disantap, mensyukuri proses alam dan kerja banyak tangan di baliknya, serta mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya. Praktik ini menumbuhkan rasa hormat terhadap pangan dan mengurangi pemborosan.
Selain bertanggung jawab menghabiskan makanan, peserta didik juga diajak mengurangi sampah dengan membawa botol minum dan tempat makan dari rumah, menghindari kemasan plastik, mengolah sampah daun menjadi kompos, memanfaatkan botol bekas sebagai pot atau hiasan, serta mengolah sisa kulit buah dan sayuran menjadi eco enzyme.

Kepedulian dalam menciptakan lingkungan hijau perlu ditanamkan sejak dini sebagai norma hidup bersama. Peserta didik dapat diajak keluar dari rutinitas kelas untuk berjumpa langsung dengan alam melalui kegiatan menanam dan merawat tanaman di kebun sekolah. Pengalaman ini melatih tanggung jawab sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.
Upaya membawa energi alami ke dalam kegiatan sekolah seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Ia perlu dikembangkan sebagai perayaan ekologis yang berkelanjutan, misalnya melalui edukasi lingkungan yang dikemas dalam permainan kolaboratif, menggembirakan, dan interaktif atau dikenal sebagai pendekatan Eco Edutainment Attractive. Pendekatan ini mengajak peserta didik merawat bumi sebagai rumah bersama dengan penuh sukacita.
Pada akhirnya, alam semesta selalu memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia agar terus merawat bumi. Perubahan ekologis di lingkungan sekolah tidak selalu dimulai dari gerakan besar, melainkan dari keberanian membuat komitmen kecil yang dijalankan secara konsisten. Ketika peserta didik dibiasakan mengurangi sampah, menghargai makanan, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, mereka sedang belajar mencintai bumi sebagai rumah bersama. Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran ini melalui teladan, kebiasaan, dan pengalaman nyata, sehingga harapan akan lingkungan yang lestari bagi generasi masa depan dapat terus terjaga.