Anastasia Puji Lestari
SMP Strada Santa Maria 2
Panggilan hidup sering kali tidak disadari oleh seseorang karena ia tidak muncul dengan suara lantang. Panggilan hidup sering kali datang secara perlahan dalam kegelisahan dan perasaan ketika kita melakukan hal-hal yang bermakna untuk orang lain. Panggilan hidup bukan berasal dari dunia maupun dari diri kita sendiri, melainkan undangan dari sang Ilahi untuk menjalani hidup yang bermakna dan melayani seturut kehendak-Nya. Sayangnya, panggilan hidup sering terabaikan dengan adanya tawaran gemerlap duniawi yang justru sering kali membawa manusia pada kehampaan dan kekhawatiran.
Manusia terlena dengan hidup yang dijalani tanpa menyadari bahwa apa sebenarnya tujuan hidupnya.
Panggilan hidup bukan tentang menjadi yang paling hebat tetapi sebuah kesetiaan untuk manjawab apa yang menjadi kehendak Tuhan. Panggilan hidup menuntut keberanian: berani mengenal diri sendiri, berani berkata tidak pada jalan yang tampak aman tetapi hampa, dan berani berkata ya pada jalan gelap yang terasa benar. Menemukan panggilan hidup memerlukan waktu, doa dan keterbukaan hati terhadap Kehendak Tuhan. Panggilan hidup akan tumbuh dari kepekaan hati dan makna pengalaman yang kita alami. Perbuatan kecil mampu memberikan dampak yang besar bagi oranglain maka di saat itulah panggilan hidup akan menemukan bentuknya dan hidup akan memperoleh maknanya.
Menjalani panggilan hidup juga berarti berdamai dengan ketidaksempurnaan. Tidak semua langkah akan terasa pasti dan mudah. Namun, ketika seseorang hidup selaras dengan panggilan-Nya, hidup terasa damai dan kegagalan tidak mematahkan harapan. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli, lahir dari kesadaran bahwa hidup dijalani dengan tujuan yang pasti.
Panggilan hidup sering kali dipahami sebagai sebuah dorongan untuk memberikan arah dan makna. Bukan hanya sekadar sebuah profesi atau identitas sosial, tetapi merupakan suara lembut yang menuntun pilihan, sikap, dan cara kita memberikan diri bagi oranglain. Oleh karena itu, panggilan hidup memiliki sifat yang personal dan unik.

Dalam perjalanan hidup saya, kesadaran akan panggilan hidup tidak muncul secara tiba-tiba melainkan dengan proses yang panjang dan melibatkan banyak orang. Ada kalanya saya menjalani kehidupan sesuai arus : belajar, bekerja, bermasyarakat dan memenuhi harapan orang lain tanpa memahami apa makna dari semua yang saya lakukan. Saya mulai menyadari bahwa ada hal-hal tertentu yang membuat saya merasa “hidup”: saat mendengarkan cerita orang lain, saat bisa membantu meski dengan cara sederhana, dan saat berani jujur pada suara hatiku sendiri. Seperti panggilan yang saya jalani saat ini, menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru bukanlah profesi yang saya impikan. Saya pernah berfikir apa tujuan Tuhan menginginkan saya menjalani profesi ini.
Saya mencoba melihat dengan hati terbuka setiap proses dan pengalaman yang saya alami. Hal ini menyadarkan saya bahwa panggilan hidup harus di tanggapi dengan ketulusan hati. Saya menyadari bahwa sebagai seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu yang kita miliki tetapi juga mendampingi, mendidik dan membimbing anak-anak dalam proses tumbuh kembang mereka baik secara kognitif maupun karakter yang mereka miliki. Saya sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan apa yang baik bagi kita kepada anak-anak. Menyetuh hati anak-anak untuk mendalami karakter yang mereka miliki membantu kita sebagai seorang guru untuk menentukan bagaimana kita akan memperlakukan anak. Ada banyak cara yang dapat dilakukan supaya kita mampu menyentuh hati anak dan masuk melalui jalur yang sesuai.
Saya meyakini bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan hati maka akan menemukan maknanya sendiri. Melayani peserta didik berarti melayani Tuhan. Tuhan memberikan cinta yang besar untuk saya, maka saya akan memberikan cinta yang besar pula kepada-Nya melalui peserta didik. Saya terus belajar dan memperbaiki diri supaya memiliki pengetahuan yang luas untuk diberikan kepada murid-murid. Terus bergerak melakukan perubahan untuk menjawab panggilan hidup saya. Sehingga hidup menemukan tujuan yang pasti