“Sudah belajarkah kamu? Sudah selesaikah tugasmu? Berapakah nilai ulanganmu?”
Coba kita refleksikan berapa kali kita bertanya hal tersebut kepada anak-anak? Sering dan bahkan hampir setiap saat dalam kegiatan belajar. Namun, seberapa sering kita bertanya, “Apa yang kamu sukai? Hal apa yang kamu minati? Apa yang membuatmu bersemangat?”. Mungkin itulah yang jarang kita tanyakan.
Nilai akademik memanglah penting, tetapi itu bukan satu-satunya cerminan kemampuan ataupun tolok ukur dari sebuah keberhasilan. Setiap anak pasti memiliki keunikan dan potensi yang beranekaragam. Potensi yang dimaksud pun bukan serta merta hanya dari akademik melainkan juga non-akademik.

Disinilah peran sekolah hadir: memberi ruang, mendampingi proses, serta mengapresiasi dan mensyukuri setiap usaha anak. Mengapresiasi bakat berarti menghargai proses. Ketika sekolah memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai minatnya, siswa akan merasa diterima apa adanya. Hal ini dapat dilakukan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Tidak hanya berhenti disitu, setiap proses yang dijalani pada kegiatan ekstrakurikuler dapat diterjunkan secara langsung melalui ajang bergengsi seperti kompetisi non-akademik.

Kompetisi non-akademik merupakan salah satu wadah yang membuka kesempatan bagi setiap anak untuk dapat bersinar dengan caranya masing-masing. SMP Strada St. Fransiskus Xaverius III memandang kompetisi non-akademik bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, inilah ruang tumbuh bagi bakat dan karakter siswa. Karakteristik di wilayah Cilincing memang cenderung “tidak takut” akan teriknya matahari maupun tebalnya debu dan polusi. Di lapangan sekolah kami lah mereka akhirnya bertumbuh dan berproses bersama demi mewujudkan impian mereka untuk meraih prestasi sesuai bakat dan minatnya.

Pramuka dan Futsal adalah bukti nyata dari keterampilan mereka yang selama ini dilatih dan diproses bersama di lapangan sekolah kami. Pramuka, dimana siswa berproses bersama melalui aturan-aturan yang ketat, demi melatih kedisiplinan melalui kegiatan LKBBT (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris Tongkat) serta melatih keterampilan melalui kegiatan pioneering dan semaphore. Futsal pun demikian, siswa dilatih di lapangan bukan hanya sekedar untuk menggiring atau menendang bola tetapi juga olahraga teratur, kekuatan mental, sportivitas, serta kesigapan untuk bagaimana melihat peluang yang ada dengan menjadikan bola sebagai “sahabat” mereka. Hal-hal tersebut diatur dengan ketat secara intensif. Setiap teriakan, tawa, usaha, kebersamaan, kepedulian, bahkan emosi sekalipun menjadi hal yang dapat mereka jadikan pelajaran berharga di lapangan, yang mungkin tidak selalu didapatkan saat belajar kognitif di ruang kelas.

Aturan ketat ini tidak menjadikan mereka kaku melainkan meningkatkan semangat mereka untuk menjadi si gesit saat berada di area mereka, yaitu lapangan. Mereka mungkin tidak bisa mengukir prestasi di bidang akademik, tetapi mereka bisa membuktikan secara langsung bahwa mereka bisa mengukir berbagai prestasi di bidang non-akademik. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam dua tahun terakhir, SMP Strada St. Fransiskus Xaverius III mampu menciptakan tim pramuka yang berhasil meraih Juara Umum selama 2 (dua) tahun berturut-turut dalam kompetisi Scoutry Pramuka di SMA Ignatius Slamet Riyadi. Tidak kalah membanggakan, tim futsal juga menorehkan prestasi setiap tahunnya dalam kompetisi futsal seperti : Juara 3 dan Juara 1 di SMK Farmasi Penabur bahkan menjadi Juara 1 di tingkat Perkumpulan Strada dalam rangka “Menuju 100 tahun Perkumpulan Strada dan Juara 1 di tingkat Strada Cabang Jakarta Utara Timur dalam rangka “Menuju 102 tahun Perkumpulan Strada.

Setiap kemenangan yang diraih bukan hanya tentang kebanggaan, tetapi tentang kerendahan hati dan rasa syukur. Kami bangga melihat siswa-siswi tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berbakat, tetapi juga berkarakter. Mereka sungguh bisa menuai hasil dari proses yang selama ini mereka tabur yakni mengubah kaku menjadi gesit.

Kenyataannya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga pribadi berkualitas yang tangguh, jujur, sportif, dan berintegritas. Keempat hal tersebut dapat diasah melalui latihan di tengah lapangan seperti yang selama ini sudah dilakukan di sekolah kami. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Setiap tepuk tangan, suara lantang, bahkan gol yang dicetak di lapangan adalah bentuk prestasi yang patut dirayakan. Pada akhirnya, setiap anak berhak untuk bersinar dengan caranya masing-masing.